Cerita memek Tembem ABG Perawan

Cerita memek Tembem ABG Perawan - Bandar Kiu Kiu Terpercaya - Mulai dari sinilah awal dari petualangan seksku. Setelah acara makan malam selesai, ketiganya aku suruh tidur di kamar belakang. Sekitar jam 1 malam setelah aku selesai nonton acara TV yang membosankan, aku menuju kekamar belakang untuk meneggok keadaan mereka. Ketika aku masuk kekamar mereka, jantungku langsung berdeguk cepat dan keras saat aku melihat daster Mbok Inem yang tersingkap sampai ke pinggang. Ternyata dibalik daster itu, Mbok inemku ini memiliki paha yang betul-betul mulus dan dibalik CD nya yang lusuh dan sobek dibagian depannya terlihat dengan jelas jembutnya yang tebal dan hitam. Pikiranku langsung melayang dan kontolku yang masih perjaka ini langsung berontak.
Setelah agak tenang, tanganku langsung bergerilnya mengelus paha mulus Mbok inemku ini. Setelah puas mengelus pahanya, aku mulai menjilati ujung paha dan berakhir dipangkal pahanya. Aku sempat mau muntah ketika mulai menjilati klitorisnya. Di depan tadi kan aku sudah bilang kalau CD Mbok ku ini sobek dibagian depan.., jadi clitnya terlihat dengan jelas. Sedangkan yang bikin aku mau muntah adalah bau CDnya. Ya.. mungkin sudah berhari-hari tidak dicuci. Setelah sekitar 13 menit aku jilati clitnya dan ternyata Mbok inemku ini tidak ada reaksi.. ya mungkin terlalu capek shingga tidurnya pulas banget, aku mulai keluarkan kontolku dan mulai aku gesek-gesekkan di clitnya. Aku tidak berani melapas CDnya takut dia bangun. Ya.. aku hanya berani mengocok kontolku sambil memandangi clit dan juga teteknya. Ternyata Mbok inemku ini tidak memakai BH sehingga puting payudaranya sempat menonjol di balik dasternya. Aku tidak berani untuk memeras teteknya karena takut Mbok Inem akan bangun.

Sedang asyik-asyiknya aku mengocok kontolku, si Nancy bangun dan melihat ke arahku. Nancy sempat mau teriak dan untung saja aku cepat menutup mulutnya dan memimta Nancy untuk diam. Setelah Nancy diam, berhubung aku sudah tanggung, terus saja aku kocok kontolku. Nancy yang masih terduduk lemas karena ngantuk, tetap saja melihat tangan kiriku yang mengocok kontolku dan tangan kananku mengusap-usap paha mulus ibunya. Sambil melakukan aktivitasku, aku pandangi si Nancy, gadis kecil yang benar-benar polos, dan aku lihat sesekali Nancy melihat mataku terus berpindah ke paha ibunya yang sedang aku elus-elus berulangkali. Setelah sekitar 8 menit berlalu, aku tidak tahan lagi, dan akhirnya “.. croot.. crrott.. croot..” ada 6 kali aku menembakkan pejuhku ke arah clit Mbok inemku ini.

Saat aku keluarkan pejuhku, si Nancy menutup matanya sambil memeluk kedua kakinya. Pada saat itulah aku tanpa sengaja melihat pangkal pahanya dan ternyata.., Nancyku ini tidak memakai CD. Saat aku sedang melihat memeknya Nancy, dia bilang.. “Ndoro.. kenapa pipis di memeknya simbok”. aku sendiri sempat kaget mendengarnya. “Nduuk.. itu biar ibumu tidur nyenyak..”. “Ndoroo.. Nancy kedingingan.., Nancy mau pipis.. tapi Nancy takut ke kamar mandi..”. “Ya.. sudah Nduk.. ayo aku antar ke kamar mandi”.

Nancy kemudian aku ajak pipis ke toilet di kamar tidurku. Aku sendiri juga pengen pipis, terus Nancy aku suruh jongkok didepanku. Nancy kemudian mengangkat roknya dan.. suur.. banyak sekali air seni yang keluar dari memeknya. Aku sendiri hanya sedikit sekali kencingku. Setelah acara pipisnya selesai, Nancy aku gendong dan aku dudukkan di pinggir ranjangku. Lalu aku peluk dan aku belai lembut rambut panjangnya yang sampai ke pinggang. “Ndoro.. Nancy belum cebok.. nanti memeknya Nancy bau lho.. Ndoro..”. “Nggak apa-apa Nduk.. biar nanti Ndoro yang bersihin memeknya Nancy.. Nancy bobok disini ya.. sama ndoromu ini..”.

Kemudian Nancy aku angkat dan mulai aku baringkan di ranjang empukku ini. Tangganku mulai aktif membelai rambutnya, pipinya, bibirnya.. dan juga payudaranya yang lumayan montok. Pada saat tanganku mengelus pahanya.. “Ndoro.. kenapa mengusap-usap kaki Nancy yang lecet..”. “Oh iya Nduk.. Ndoro lupa..”. Tahu sendirilah, aku memang benar-benar sudah horny untuk mencicipi Nancy, gadis kecilku ini. Bayangkan pembaca, disebelahku ada gadis 14 tahun yang begitu polos, dan dia diam saja ketika tanganku mengelus-elus seluruh tubuhnya.

Pembaca.. gimana udah belum ngebayanginya.. udah belum..! udah yaa.. aku terusin ceritanya.
Kemudian aku jongkok diantara kakinya dan mulailah aku singkap rok yang dipakai Nancy sampai ke pinggang. Sekarang terpampanglah dihadapanku seorang gadis kecil usia 14 tahun denga bibir kemaluan yang masih belum ditumbuhi bulu. Setelah pahanya aku kangkangkan, terpangpanglah segaris bibir memek yang dikanan-kirinya agak mengelembung.., eh maksudku tembem. Dengan jari telunjuk dan Ibu jari aku berusaha untuk menguak isi didalamnya. Dan ternyata.. isinya merah muda, basah karena ada sisa pipisnya yang tadi itu lho dan juga agak mengkilap.

Tangankupun mulai mengelus memek keperawanannya, dan sesekali aku pijit, pelintir dan aku tarik-tarik clitorisnya. Ake sendiri heran clitnya Nancyku ini ukurannya nggak kalah sama ibunya. “Aduuh.. Ndoro.. memeknya Nancy diapain.. Ndoro..”. “Tenang Nduk.. nggak apa-apa.. Ndoro mau nyembuhin luka kamu kok.. Nancy diam saja yaa..”. “Inggiih.. Ndoro..”. Setelah Nancy tenang, akupun mulai menjilati memeknya dan memang ada rasa dan bau pipisnya Nancy. “Ndoro.. jangaan.. Nancy malu ndoroo.. memek Nancy kan bau..”. Aku bahkan sempat memasukkan jariku ke liang perawannya dan mulai aku kocok-kocok dengan pelan. Nancypun mulai menggelinjang dan mengangkat-angkat pantatnya.

Aku pun mulai menyedot memeknya Nancy dengan kuat dan aku lihat Nancy menggigit bibir bawahnya sambil kepalanya digoyang kekanan kiri. “Ndoroo.. geli Ndoro.. memeknya Nancy diapain sih ndoroo..”. Akupun tidak peduli dengan keadaan Nancy yang kakinya menendang-nendang dan tangannya mencengkeram seprei ranjangku sampai sobek disana sini. Dan akhirnya.. “Ndoroo.. sudah Ndoro.. Nancy mau pii.. piis dulu Ndoro..”. Dan tidak lama kemudian “Ssuur.. suur.. suur..” Banyak sekali cairan hangatnya membanjiri mulutku. Aku berusaha sekuat tenaga untuk menelan semua cairan memeknya yang mungkin baru pertama kali ini dikeluarkannya.

Setelah kujilati dan kuhisap sampai bersih, akupun tiduran disebelahnya dan kurangkul Nancyku ini. “Ndoro.. maafin Nancy ya.. Nancy tadi pipis di mulutnya Ndoro.. pipis Nancy bau ya Ndoro..”. “Nggak apa-apa Nduk.. tapi Nancy harus dihukum.. karena udah pipis dimulut Ndoro..” “Nancy mau dihukum apa saja Ndoro.. asalkan Ndoro nggak marahin Nancy..”. “Hukumannya, Nancy gantian minum pipisnya Ndoro.. mau nggak..”. “Iya Ndoro..”.

Akhirnya aku keluarkan kontolku yang sudah tegang. Begitu kontolku sudah aku keluarkan dari CDku, Nancy yang masih terlalu polos itu menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Aku lihat wajah Nancy agak memerah. Setelah aku lepaskan kedua tangannya, aku sodorkan kontolku kedepan wajahnya dan aku suruh Nancy untuk memegangnya. “Nduk.. ayo dipegang dan dielus-elus..! “Inggih Ndoro.. tapi Nancy malu Ndoro..Nancy takut Ndoro..”. “Nggak apa-apa Nduk.. ini nggak nggigit kok.. ini namanya kontol Nduk..”. Kemudian gadis kecilku ini mulai memegang, mengurut, meremas dan kadang-kadang diurut. “Nduk.. kontolnya ndoromu ini diemut ya..”. “Tapi Ndoro.. Nancy takut Ndoro.. Nancy jijik Ndoro..”. “Nggak apa-apa Nduk.. diemut saja seperti saat Nancy ngemut es krim.. ayo nanti Nancy Ndoro kasih es krim.. mau ya..”. “Benar Ndoro.. nanti Nancy dikasih es krim..”.”Iya Nduk..”.

Nancy pun jongkok diantara pahaku dan mulai memasukkan kontolku ke mulutnya yang mungil. Agak susah sih, bahkan kadang-kadang kontolku mengenai giginya. “Nah gitu nduuk.. diisep ya.. yaa.. ya gituu.. nduuk..”. Sambil Nancy mengoral kontolku, kaos lusuhnya Nancy pun aku angkat dan aku lepaskan dari tubuh mungilnya. Aku elus-elus teteknya dan kadang aku remas dengan keras. “Aku gemes banget sih sama payudaranya yang bentuknya agak meruncing itu”. Sekitar 12 menit kemudian, aku rasakan kontolku sudah berdenyut-denyut. Aku tarik kepala Nancy dan aku kocok kontolku dimulut mungilnya.. dan.. aku tekan sampai menyentuh kerongkongannya dan akhirnya “.. croot.. croot.. croot.. cruut..!” Cairan pejuhku sebagian besar tertelan oleh Nancy dan hanya sedikit yang menetes keluar dari mulutnya.

“Ndoroo.. pipisnya banyak banget.. Nancy sampai mau muntah..”. “He.. eh.. nduuk.. tapi enak kan.. pipisnya Ndoro..”. “Inggih Ndoro.. pipis Ndoro kental banget.. Nancy sampai nggak bisa telan.. agak amis Ndoro..”. Aku memang termasuk laki-laki yang suka merawat tubuhku. Hampir setiap hari aku fitnes. Menuku setiap hari: susu khusus lelaki, madu, 6 butir telur mentah, dan juga suplemen protein produk Amerika. Jadi ya wajar kalau spermaku kental dan agak amis.

Kemudian aku peluk bidadariku kecilku ini dan sesuai janjiku dia aku kasih es krim rasa vanilla. Setelah habis Nancy memakan es krimnya, dia aku telentangkan lagi diranjangku. Terus aku kangkangkan lagi pahanya dan aku mulai lagi menjilati memek tembemnya. terus terang saja aku penasaran sebelum membobol selaput daranya. “Ndoro.. mau ngapain lagi.. nanti Nancy pipis lagi lho Ndoro..”. “Nggak apa-apa Nduk.. pipis lagi aja Nduk.. Nancy mau lagi khan es krim..” “Mau Ndoro..”.

Setelah aku siap, pahanya aku kangkangkan lagi lebih lebar, dan aku mulai memasukkan kepala kontolku ke lubang surgawinya. Baru masuk sedikit, Nancyku meringgis. “Ndoro.. memek Nancy diapain.. kok sakit..” Aku sempat tarik ulur kontolku di liang memeknya. Dan setelah kurasa mantap, aku tekan dengan keras. Aku rasakan ujung kontolku merobek selaput tipis, yang aku yakin itu adalah selaput daranya. “Ndoorroo.. sakiit..” Langsung aku peluk Nancy, kuciumi wajah dan bibir mungilnya. “Nggak apa-apa Nduk.. nanti enak kok.. Nancy tenang saja ya..”. Setelah kudiamkan beberapa saat, aku mulai lagi memompa memeknya dan aku lihat masih meringis sambil menggigit bibir bawahnya.

“Oohh.. ahh.. auuhh.. geli Ndoro.. ahh..” itulah yang keluar dari mulutnya Nancy. “Auuhh.. oohh.., Ndoro.., periih.., aahh.. gelii Ndoro.. aahh..,”. SAmbil aku terus meusuk-nusuk memeknya, aku selalu perhatikan wajah imutnya Nancy. Sungguh pemandangan yang luar biasa. Wajahnya memerah, bibirnyapun kadang-kadang menggigit bibir bawahnya dan kalau aku lihatnya matanya terkadang hanya terlihat putihnya saja. Kedua kaki Nancy pun sudah tidak beraturan menendang kesana-kesini dan juga kedua tangannya menarik-narik seprei kasurku hingga terlepas dari kaitannya. “Auuhh.. oohh.., ndoroo.., aahh.. ooh.. aahh, ndoroo..”.

Aku mulai rasakan ada denyutan-denyutan vaginanya di kontolku, pertanda Nancyku sebentar lagi orgasme. Kepala Nancy pun mulai menengadah ke atas dan kadang-kadang badannya melengkung. Sungguh pemandangan yang sensasional, gadis 14 tahun yang masih begitu polos, tubuhnya mengelinjang dengan desahan-desahan yang betul-betul erotis. Aku yakin para pembaca setuju dengan pendapatku, tapi tangannya pembaca kok megang-megang “itu” nya sendiri, hayo udah terangsang ya. Aku tahu kok, nggak usah malu-malu, terusin aja sambil membaca ceritaku ini.

“Oohh.. ahh.. auuhh.. geli ndoroo.. ahh..” “Ndoroo.. Nancy mau pipiiss.. ndoroo..” “Seerr.. suurr.. suurr.., kontolku seperti disiram air hangat..”. Aku peluk sebentar Nancyku untuk memberikan kesempatan gadis kecilku menuntaskan orgamesme. Setelah agak reda, aku lumat-lumat bibir mungilnya. “Maapin Nancy ya Ndoro.. Nancy pipis dikasurnya Ndoro..”. “Nancy malu Ndoro.. udah gede masih ngompol di kasur..”. “Nggak apa-apa Nduk.. (lugu sekali gadisku ini).. Ndoro juga mau pipis di kasur kok..”.

Aku sendiri sudah nggak tahan. Kakinya aku angkat, lalu kuletakkan di pundakku. Dengan posisi ini kurasakan kontolku menyentuh dinding rahimnya. Memeknya jadi becek banget, dan aku mulai mempercepat sodokan kontolku. “Ndooro.. Nancy capek.. Nancy mau bobok.. ndooroo..”. “Iya nduuk.. Nancy bobok saja yaa..”. “Memeek Nancy periih.. ndooroo..”. Kutekan keras-keras kontolku ke liang kenikmatannya dan kutarik pantatnya dan “croot.. cruut.. croot.. croot.. cruut.. croot..!”. Aku muntahkan pejuhku kedalam rahimnya.
http://www.pokervkiu.com
http://www.pokervkiu.com

Aku cabut kontolku dari memek tembemnya, terlihat lendir putih bercampur dengan darah segar mengalir keluar dari liang kemaluannya. “Ndoro.., kenapa Ndoro pipis diperutnya Nancy.., perut Nancy jadi hangat Ndoro..”. “Iya nduuk.., biar kamu nggak kedinginan.., ayo sekarang Nancy bobok ya.., sini Ndoro kelonin..”. “Inggih Ndoro.., sekarang Nancy capek.., Nancy pengen bobok..”.

Komentar